Selasa, 19 Juni 2012

Sejarah Peradaban Islam: Bani Abbas(Kemunduran dan Kehancuran)


BANI ABBAS
(Kemunduran dan kehancuran)
OLEH: M. ANSHARI

A.    PENDAHULUAN
Maju mundurnya peradaban islam tergantung dari sejauh mana dinamika umat islam itu sendiri. Dalam sejarah islam tercatat, bahwa salah satu dinamika umat islam itu dicirikan oleh kehadiran kerajaan-kerajaan islam diantaranya Abbasiyah, dan Abbasiyah ini memiliki peradaban yang tinggi, diantaranya memunculkan ilmuwan-ilmuwan dan para pemikir muslim.
Pada  makalah ini akan membahas tentang  kemunduran dan kehancuran pada masa ini, baik dari aspek ekonomi, politik, dan social.pada masa khalifah Al-Mu’tashim (1242 -1258). Pada pemerintahannyalah kota Bagdad dihancurkan oleh Hulagu Khan.
Selanjutnya, pembahasan ini akan mencoba untuk mengkaji faktor-faktor kemunduran Daulah Abbasiyah hingga mengalami kehancurannya. Hal ini tentu saja sangat menarik, karena suatu dinasti yang begitu besar dengan ditopang oleh perekonomian yang mapan serta kebudayaan maupun peradaban yang tinggi perlahan-lahan mundur dan kemudian hancur.

B. PERIODISASI KEKHALIFAHAN DAULAH ABBASIYAH
 Pada umumnya para sejarawan menyatakan bahwa masa kekhalifahan Daulah Abbasiyah lebih dari lima abad, yakni berawal dari tahun 132 H/ 750 M sampai dengan tahun 656 H/ 1258 M.[1] Sedangkan Al-Suyuthi mengatakan dalam Muhammad Maghfur w.,[2] bahwa masa pemerintahan Daulah Abbasiyah berawal dari tahun 132 H/750 M sampai 923 H/ 1517 H.[3]
Dari sumber di atas, mayoritas sejarawan mengatakan berakhirnya masa pemerintahan Daulah Abbasiyah berdasarkan jatuhnya kota bagdad pada tahun 656 H/ 1258 M ketangan tentara Tartar dan Mongol. Sedangkan kesimpulan Al-Suyuthi mengenai jatuhnya Bagdad ke tangan bangsa Mongol tidak secara otomatis dapat dijadikan bukti berakhirnya masa pemerintahan Abbasiyah, sebab tiga setengah tahun pasca jatuhnya bagdad, masih ada khalifah Abbasiyah baru yang dibaiat, yaitu Al-Mustansir tahun 659 H/ 1261 M yang memindahkan pusat pemerintahannya ke Mesir sampai kepada khalifah yang ke 22, yakni khalifah Al-Mutawakkil III 923 H/ 1517 M, kemudian direbut oleh Sultan Salim I dari Turki Usmani dan sejak itulah dimulai kekhalifahan Usmaniah di Mesir.
Kebanyakan para ahli sejarah mempunyai perspektif sendiri-sendiri dalam menganalisis periodisasi kekhalifahan Abbasiyah. Karena itu masing-masing berbeda dalam mengklasifikasikan setiap periode yang di dalamnya. Muhammad Al-Khudhri, guru besar ilmu sejarah islam Universitas Mesir (Egyptian University) dalam Zainal Abidin Ahmad[4] dan Abu Su’ud, guru besar pendidikan sejarah IKIP semarang mengklasifikasikannya menjadi lima periode: pertama, periode antara tahun 132-232 H/ 750-847 M. Periode ini merupakan pembentukan Daulah Abbasiyah dan sekaligus puncak popularitas  daulah ini, terutama pada masa pemerintahan Khalipah Harun Al-Rasyid 786-806 M dan putranya al-Makmun 813-883 M. Kedua, periode antara tahun 232-334 H/847-806 M, periode ini ditandai dengan besarnya pengaruh Turki dalam pemerintahan . Ketiga , periode antara tahun 334-447 H/ 945-1055 M, periode iniposisi Daulah Abbasiyah berada dalam kekuasaan Bani  Buwaihi. Keempat , periode antara  tahun 447-590 H/ 1055-1199 M, periode ini ditandai oleh kekuasaan Bani Saljuk dalam Daulah Abbasiyah . Kelima, periode antara tahun 590-656 H/ 1199-1258 M, periode ini khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu , namun berkuasa hanya di Bagdad dan sekitarnya . Sempitnya wilayah kekuasaan khalifah menunjukkan kelemahan politiknya.[5] Nampaknya, pengklasifikasian ini berdasarkan kepada perebutan dan pergantian kekuasaan yang terjadi selama pemerintahan Bani Abbas.
Sedangkan Abdullah Muhammad Zin, pengajar Nasional University of Malaysia dalam Muhammad Maghfur W, mengklasifikasikannya menjadi empatperiode: pertama, periode antara tahun 132-232 H/ 750-847 M. Kedua, periode antara tahun 232-334 H/ 847-945 M. Ketiga, periode antara tahun 334-447 H/ 945-1055 M. Keempat, periode antara tahun 447-656 H/ 1055-1258 M.[6] Periodisasi seperti ini juga dikemukakan oleh A. Hasjmy[7] dan M. Mansyhur Amin,[8] menurutnya periode pertama merupakan kejayaan Daulah Abbasiyah. Periode kedua merupakan masa besarnya pengaruh orang-orng Turki dan pulihnya pengaruh aliran Sunni. Periode ketiga adalah masa besarnya pengaruh keluarga Buwaihi. Periode keempat adalah masa besarnya pengaruh Bani Saljuk. Pengklasifikasian ini sama halnya dengan yang pertama, manun tidak menyentuh kekuasaan Bani Abbas yang terbebas dari Dinasti apapun pada masa-masa akhir kekhalifahan mereka.
Sementara, Syalabi dalam Ali Mufrodi, mengklasifikasikan periodisasi  Daulah Abbasiyah menjadi tiga periode: pertama, periode antara tahun 132-232 H/ 750-847 M di mana para khalifah Abbasiyah berkuasa penuh, kedua, periode antara tahun 232-590 H/ 847-1199 M. Masa ini kekuasaan khalifah para khalifah abbasiyah sebenarnya berada di tangan orang lain, ketiga, periode antara tahun 590-656 H/ 1199-1258 M. Masa ini kembalinya kekuasaan di tangan  Abbasiyah, tetapi kekuasaan mereka hanya di sekitar Bagdad saja.[9] Nadiyyah Mahmud Mustafa, pengajar ilmu hubungan internasional pada fakultas ekonomi dan ilmu politik Universitas Caero Mesir dalam Muhammad Maghfur W., mengklasifikasikan periodisasi Daulah Abbasiyah menjadi tiga periode: pertama, periode antara tahun 132-247 H/ 750-861 M. kedua, periode antara tahun 247-447 H/ 861-1055 M. Ketiga, periode antara tahun 447-650 H/ 1055-1256 M.[10] Sedangkan Mghfur sendiri mengklasifikasikannya menjadi tiga periode: pertama, masa kelahiran dan pembentukan antara tahun 132-750 H/ 158-775 M. Kedua, masa kematangan antara tahun 158-226 H/ 775-842 M. Ketiga, masa kelemahan dan kemunduran antara tahun 226-923 H/ 842-1517 M.[11] Pengklasifikasian yang ketiga ini hampir sama dengan klasifikasi yang pertama dan kedua, kecuali Maghfur berdasarkan kepada masa pembentukan, kejayaan dan kemunduran, selain itu ia juga cenderung mengikuti kesimpulan Al-Sayuthi mengenai masa pemerintahan Abbasiyah.
C.    ERA KEMUNDURAN DAULAH ABBASIYAH
            Secara umum penyebab kemunduran Daulah Abbasiyah dibagi dalam 2 Faktor [12]:
1.      Faktor Internal
                 Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. Namun demikian, faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat, benih-benih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan.
                 Disamping kelemahan khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Perebutan Kekuasaan di Pusat Pemerintahan
                        Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu.
                        Menurut Ibnu Khaldun, ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Pertama, sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Dengan demikian, khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional.
            Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam) di dunia Islam.
                        Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu, para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara.
            Adalah Khalifah Al-Mu’tashim (218-227 H) yang memberi peluang besar kepada bangsa Turki untuk masuk dalam pemerintahan. Mereka diangkat menjadi orang-orang penting di pemerintahan, diberi istana dan rumah dalam kota. Merekapun menjadi dominan dan menguasai tempat yang mereka diami, sehingga khalifah berikutnya menjadi boneka mereka.
                               Setelah al-Mutawakkil (232-247 H), seorang Khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki semakin kuat, mereka dapat menentukan siapa yang diangkat jadi Khalifah. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia, pada periode ketiga (334-447), dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk, bangsa Turki pada periode keempat (447-590H).
2. Munculnya Dinasti-Dinasti Kecil Yang Memerdekakan Diri
                        Wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama hingga masa keruntuhan sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India. Walaupun dalam kentaannya banyak daerah yang tidak dikuasai oleh Khalifah, secara riil, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaaan gubernur-gubernur bersangkutan. Hubungan dengan Khalifah hanya ditandai dengan pembayaran upeti
Ada kemungkinan penguasa Bani Abbas sudah cukup puas dengan pengakuan nominal, dengan pembayaran upeti. Alasannya, karena Khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk, tingkat saling percaya di kalangan penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah dan juga para penguasa Abbasiyah lebih menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. Selain itu, penyebab utama mengapa banyak daerah yang memerdekakan diri adalah terjadinya kekacauan atau perebutan kekuasaan di pemerintahan pusat yang dilakukan oleh bangsa Persia dan Turki.
                        Akibatnya propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. Ini bisa terjadi dengan dua cara, pertama, seorang peminpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti daulat Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Marokko. Kedua, seorang yang ditunjk menjadi gubernur oleh Khalifah yang kedudukannya semakin kuat, seerti daulah Aghlabiyah di Tunisiyah dan Thahiriyyah di Khurasan.
Dinasti yang lahir dan memisahkan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah, di antaranya adalah:
a)       Yang berkembasaan Persia: Thahiriyyah di Khurasan (205-259 H), Shafariyah di Fars (254-290 H), Samaniyah di Transoxania (261-389 H), Sajiyyah di Azerbaijan (266-318 H), Buwaihiyyah, bahkan menguasai Baghdad (320-447).
b)      Yang berbangsa Turki: Thuluniyah di Mesir (254-292 H), Ikhsyidiyah di Turkistan (320-560 H), Ghaznawiyah di Afganistan (352-585 H), Dinasti Seljuk dan cabang-cabangnya
c)      Yang berbangsa Kurdi: al-Barzukani (348-406 H), Abu Ali (380-489 H), Ayubiyah (564-648 H).
d)      Yang berbangsa Arab: Idrisiyyah di Marokko (172-375 h), Aghlabiyyah di Tunisia (18-289 H), Dulafiyah di Kurdistan (210-285 H), Alawiyah di Tabaristan (250-316 H), Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil (317-394 H), Mazyadiyyah di Hillah (403-545 H), Ukailiyyah di Maushil (386-489 H), Mirdasiyyah di Aleppo 414-472 H).
e)      Yang Mengaku sebagai Khalifah : Umawiyah di Spanyol dan Fatimiyah di Mesir.

3. Kemerosotan Perekonomian

        Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Perekonomian masyarakat sangat maju terutama dalam bidang pertanian, perdagangan dan industri. Tetapi setelah memasuki masa kemunduran politik, perekonomian pun ikut mengalami kemunduran yang drastis.
        Setelah khilafah memasuki periode kemunduran ini, pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi.
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua, faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.
4. Munculnya Aliran-Aliran Sesat dan Fanatisme Keagamaan
        Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai untuk menjadi penguasa, maka kekecewaan itu mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme dan Mazdakisme. Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah.
               Adalah khalifah Al-Manshur yang berusaha keras memberantasnya, beliau juga memerangi Khawarij yang mendirikan Negara Shafariyah di Sajalmasah pada tahun 140 H . setelah al Manshur wafat digantikan oleh putranya Al-Mahdi yang lebih keras dalam memerangi orang-orang Zindiq bahkan beliau mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan mereka serta melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid'ah. Akan tetapi, semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang ajaran, sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu.
        Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak berlindung di balik ajaran Syi'ah, sehingga banyak aliran Syi'ah yang dipandang ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi'ah sendiri. Aliran Syi'ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Al-Mutawakkil, misalnya, memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan. Namun anaknya, al-Muntashir (861-862 M.), kembali memperkenankan orang syi'ah "menziarahi" makam Husein tersebut. Syi'ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. Dinasti Idrisiyah di Marokko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Syi'ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni.
Selain itu terjadi juga konflik dengan aliran Islam lainnya seperti perselisihan antara Ahlusunnah dengan Mu'tazilah, yang dipertajam oleh al-Ma'mun, khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M), dengan menjadikan mu'tazilah sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Pada masa al-Mutawakkil (847-861 M), aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan ahlusunnah kembali naik daun. Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa Bani Buwaih. Namun pada masa dinasti Seljuk yang menganut paham Asy'ariyyah penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilakukan secara sistematis. Dengan didukung penguasa, aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan berjaya.

2. Faktor Eksternal
Selain yang disebutkan diatas, yang merupakan faktor-faktor internal kemunduran dan kehancuran Khilafah bani Abbas. Ada pula faktor-faktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur.
1.      Perang Salib
              Kekalahan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 orang dari pasukan Alp Arselan yanag hanya berkekuatan 15.000 prajurit telah menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang kristen terhadap ummat Islam. Kebencian itu bertambah setelah Dinasti Saljuk yang menguasai Baitul Maqdis menerapkan beberapa peraturan yang dirasakan sangat menyulitkan orang-orang Kristen yang ingin berziarah kesana. Oleh karena itu pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II menyerukan kepada ummat kristen Eropa untuk melakukan perang suci, yang kemudian dikenal dengan nama Perang Salib.
                    Perang salib yang berlangsung dalam beberapa gelombang atau peride telah banyak menelan korban dan menguasai beberapa wilaya Islam. Setelah melakukan peperangan antara tahun 1097-1124 M mereka berhasil menguasai Nicea, Edessa, Baitul Maqdis, Akka, Tripoli dan kota Tyre.
                    Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa Hulagu Khan, panglima tentara Mongol, sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahlul-kitab. Tentara Mongol, setelah menghancur leburkan pusat-pusat Islam, ikut memperbaiki Yerussalem.
2.      Serangan Mongolia Ke Negeri Muslim dan Berakhirnya Dinasti Abbasiyah
              Orang-orang Mongolia adalah bangsa yang berasal dari Asia Tengah. Sebuah kawasan terjauh di China. Terdiri dari kabilah-kabilah yang kemudian disatukan oleh Jenghis Khan (603-624 H). mereka adalah orang-orang Badui-sahara yang dikenal keras kepala dan suka aberlaku jahat.
Sebagai awal penghancuran Bagdad dan Khilafah Islam, orang-orang Mongolia menguasai negeri-negeri Asia Tengah Khurasan dan Persia dan juga menguasai Asia Kecil. Pada bulan September 1257, Hulagu mengirimkan ultimatum keada Khalifah agar menyerah dan mendesak agar tembok kota sebelah luar diruntuhkan. Tetapi Khalifah tetap enggan memberikan jawaban. Maka pada Januari 1258,
pasuakan Hulagu bergerak untuk mengahancurkan tembok ibukota. Sementara itu Khalifah al-Mu’tashim langsung menyerah dan berangkat ke base pasukan mongolia. Setelah itu para pemimpin dan fuqaha juga keluar, sepuluh hari kemudian mereka semua dibunuh. Hulagu mengizinkan pasukannya untuk melakukan apa saja di Baghdad. Mereka menghancurkan kota Baghdad dan membakarnya. Pembunuhan berlangsung selama 40 hari dengan jumlah korban sekitar dua juta orang.
              Perlu juga disebutkan disini peran busuk yang dimainkan oleh seorang Syi’ah Rafidhah yaitu Ibn ’Alqami, menteri al-Mu’tashim, yang bekerjasama dengan orang-orang Mongolia dan membantu pekerjaan-pekerjaan mereka.
               Karena faktor-faktor tersebut saling terkait antara satu dan yang lainnya, maka mau tidak mau membawa dinasti Abbasiyah kepada kehancuran














D. SIMPULAN 
Pada umumnya para sejarawan menyatakan bahwa masa kekhalifahan Daulah Abbasiyah lebih dari lima abad, yakni berawal dari tahun 132 H/ 750 M sampai dengan tahun 656 H/ 1258 M. Dan rentang waktu yang panjang tersebut,  mereka mengklasifikasikan menjadi lima periode. Adapun kemunduran Daulah Abbasiyah mulai terjadi pada periode kedua, yaitu pada tahun 232 H/ 847 M ketika tentara Turki begitu dominan dalam pemerintahan Abbasiyah dan khalifah-khalifah hanya sebagai simbol
Sedangkan faktor-faktor yang membuat Daulah Bani Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat di kelompokkan menjadi faktor-faktor internal dan eksternal. Di antara faktor-faktor internal adalah : pertama, perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana Bani Abbas. Kedua, adanya persaingan tidak sehat antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah, terutama Arab, Persia, dan Turki. Ketiga, konflik keagamaan. Keempat, lemahnya kekuatan pusat yang menyebabkan munculnya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri. Kelima, kemerosotan ekonomi akibat dari kemunduran politik. Adapun  faktor eksternal terdiri dari dua faktor, yakni: pertama, perang salib yang berkepanjangan dan menelan banyak korban. Dan Kedua, serbuan pasukan Mongol dan Tartar yang dipimpin langsung oleh Hulagu Khan dan menguasai Bagdad. Yang terakhir inilah secara langsung menyebabkan hancurnya Daulah Abbasiyah.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, H. Zainal Abidin, Sejarah Islam Dan Umatnya Sampai Sekarang: Perkembangannya Dari Zaman Ke Zaman, Jakarta, bulan bintang, 1978.
Amin, M. Mansyhur, Sejarah Peradaban Islam, Bandung, Indonesia spirit Foundation, 2004
Dahlan, H. Abdul Aziz, et al., (ed), “Abbasiyah, Dinasti”, Eksislopedi Islam, jakarta, Ichtiar baru Van Hove, 2005.
Esposito, John L., The Oxford Encyclopedia of the modern islamic word, diterjemahkan oleh Ahmad baiquni (ed), “Abbasiyah, Dinasti” dengan judul, Eksislopedi  Oxford: dunia islam modern, bandung, mizan, 2002.
Hasjmy, A., Sejarah Kebudayaan Islam, bulan bintang, 1979.
Maghfur, Muhammad W., koreksi atas kesalahan pemikiran kalam dan filsafat islam, Bangil, Al-Izzah, 2002.
Mufrodi, Ali, islam di kawasan kebudayaan Arab, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997.
http://peperonety/com/go/sites/mvew/sejarahend/ diakses senin 28 Septeber 2009 pukul 20.10 wita

http://amgy.wordpress.com/Sejarah Peradaban Islam Pada Zaman Dinasti Abbasiyah Di Bagdad, di akses senin 28 September 2009

Nasution, harun, islam ditinjau dari berbagai aspeknya, jakarta, UI-Press, 1985.
Su’ud, Abu, islamologi: sejarah, ajaran, dan peranannya dalam peradaban umat manusia, jakarta, Rineka Cipta, 2003.
Yatim Badri, Dr., MA., Sejarah Peradaban Islam : Dirasah Islamiyah II, (Jakarta : PT. Grafindo Persada, 2006







[1] H. Abdul Aziz Dahlan, et al,. (ed.), “Abbasiyah, Dinasti”, ensiklopedi islam, (jakarta: ichtiar baru van hove, 2005), h. 6. Lihat juga: Abu Su’ud, Islamologi: sejarah, Ajaran, dan peranannya dalam peradaban Umat manusia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), cet. I, h. 74. Lihat juga: Fuad Mohd. Fahruddin, perkembangan kebudayaan islam, (jakarta: Bulan Bintang, 1985), cet. I, h. 73.
[2]Muhammad Maghfur W. (selanjutnya disebut Maghfur), koreksi atas kesalahan pemikiran kalam dan filsafat islam, (Bangil: Al-Izzah, 2002) cet I, h. 165.
[3]Pasca jatuhnya bagdad ke tangan bangsa mongol pada tahun 656  H/ 1258 M, Dinasti Abbasiyah bangkit kembali di Kairo, Mesir selama tiga abad lamanya. Mereka meneruskan kekhalifahan, namun hanya menjabat sebagai khalifah tituler, yakni khalifah yamg berkuasa hanya dibidang keagamaan dibawah kekuasaan Mamluk, tanpa kekuasaan duniawi yang bergelar sultan. Dengan kata lain, walaupun masih termasuk anggota istana Mamluk dan tetap dapat memberikan legitimasi atas kesultanan, namun mereka tanpa kekuasaan yang berdaulat. Selama tiga setengah abad pemerintahan ada 22 khalifah yang memerintah. Dan dengan ditaklukkannya Mesir oleh kesultanan  Usmaniayah pada tahun 923 H/ 1517 M maka hilanglah kekhalifahan Abbasiyah untuk selama-lamanya. Lihat: John L. Esposito, the Oxford encyclopedia of the modern islamic Word, diterjamahkan oleh Ahmad Baiquni (ed), “Abbasiyah, Dinasti” dengan judul, Ensiklopedi Oxford: Dunia islam modern, (Bandung: Mizan, 2002), cet. II, h. 99-100.
[4]H. Zainal Abidin Ahmad, sejarah islam dan umatnya sampai sekarang: perkembangannya dari zaman ke zaman, (jakarta: Bulan Bintang, 1978), cet. I, h. 12
[5] Abu Su’ud, op. Cit., h. 74-81. Klasifikasi seperti ini juga terdapat dalam Badri Yatim, namun periode pertaama disebut denga masa pengaruh Persia pertama, lihat Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta RajaGrafindo Persada, 2002) cet. XIII, h. 49-50. Lihat juga:: H. Abdul Aziz Dahlan,op. Cit., h. 6-10.
[6]Maghfur, op. Cit., h. 167.
[7]A. Hasjmy, sejarah kebudayaan islam, (jakarta: Bulan Bintang, 1979), cet. II, h. 243.
[8]M. Mansyhur Amin, sejarah peradaban islam, (bandung: Indonesia spirit Foundation, 2004), cet. I, h. 106-144.
[9]Ali Mufrodi,, islam di kawasan kebudayaan Arab, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997.., h. 168
[10]Maghfur, op. Cit., h. 168.
[11]Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar